Aplikasi Protades, Kini Sudah Memanfaatkan Ratusan Desa di Indonesia. – radarcirebon.com

KEMAJUAN teknologi membawa banyak perubahan dalam kehidupan manusia. Secara positif, kemajuan itu tentu orientasinya demi kemaslahatan untuk dimanfaatkan orang banyak, guna mengembangkan diri dan memperbaiki kehidupan.

Contoh saja, buah karya Juni Prayitno. Pria kelahiran 9 Juni 1997 di Kendal, Jawa Tengah ini berhasil menciptakan teknologi dalam bentuk aplikasi. Namanya Program Digitalisasi Letter C Desa disingkat Protades, aplikasi yang kini sudah memanfaatkan ratusan desa di Indonesia.

“Pengguna Protades sudah ada 439 desa yang tersebar di 31 Kabupaten se Indonesia, paling banyak di Jawa Tengah,” ungkap Juni, Selasa (27/7).

Menjadi Founder Protades, tidak saja menempatkan Juni di antara jajaran programer aplikasi yang inovatif. Tapi juga mendudukkannya sebagai tokoh muda yang visioner.

Protades yang kini masuk dalam Top 99 Kompetisi Pelayanan Inovasi (KIPP) 2021 itu, di-launching pertama kali 14 Juni 2017 di Desa Kebongebong, Kabupaten Pagaruyung, Kabupaten Kendal, desa dimana pria lulusan SMKN 5 Kendal jurusan Rekayasa Perangkat Lunak ini lahir.

Peluncuran tersebut sebagai aplikasi versi pertama dalam konteks uji coba. Berlanjut di tahun 2018, program tersebut terus dibenahi oleh Juni dan namanya kemudian diganti menjadi program Letter C-Desa. Sementara di tahun 2019, program itu terus dikembangkan dan berganti nama menjadi Protades, menyusul kepemilikan hak paten.

Berawal dari ide menyelamatkan surat tanah letter C desa, berbekal ilmu yang diampu selama sekolah serta peralatan seadanya, Juni membuka usaha layanan komputer dan usaha sendiri yang ia beri nama DJ Komputer Indonesia. Tepatnya tanggal 14 September 2015.

“Waktu itu belum pembuatan software,” ucap Juni.

Sembari menjalankan usaha, Juni melakukan penelitian di sejumlah desa di Kendal, antara lain di Desa Kalipakis, Sukorejo. Awalnya, ia menawarkan pembuatan situs web desa namun tidak mendapat tanggapan positif.

Sebaliknya, desa-desa yang ia kunjungi rerata menjadikan Letter-C yang terus memicu konflik di antara masyarakat. Pasalnya, berkas Letter-C telah berusia tua karena dibuat sejak tahun 1960-an dan karenanya rentan rusak bahkan hilang.

“Padahal Letter C ini nyawanya desa, karena arsip vital, dan karena jika hilang bisa menimbulkan masalah desa. Itulah makanya saya ciptakan Protades,” kata Juni.

Juni mengatakan, program aplikasi yang ia sebut sebagai manifestasi era 4.0 tersebut, bekerja mengarsipkan Letter-C secara digital.

Pengarsipan yang tersistem dalam sebuah aplikasi dan online, menjadikan pencarian data lebih mudah dan tidak membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

“Dengan adanya Protades ini, karena sudah ada aplikasi dan tersistem, tinggal ngetik data tanah, maka akan muncul riwayat tanah,” kata Juni.

Tidak itu saja, Protades juga pekerja yang selalu njlimet dan panjang, yang memungkinkan munculnya praktik pungutan pembohong.

“Dengan aplikasi ini, tidak ada lagi alasan. Dan ini juga mendukung program pemerintah pak Jokowi, PTSL, dengan Protades pengurusan sertifikat tanah bisa dipangkas menjadi tiga bulan bahkan lebih cepat, yang sebelumnya bisa sampai 6 bulan,” jelasnya.

Semakin kemari, program aplikasi Protades kian diminati. Desa-desa pengguna aplikasi semakin mampu dan mudah melayani. Kepercayaan masyarakat kepada pemerintah desa pun semakin tinggi.

“Respons mereka alhamudilillah, sudah diberikan juga oleh Kemenpan, ada dua hal yang bermanfaat untuk desa, kemudahan pengarsipan desa dan pelayanan semakin membaik. Kedua, peningkatan ke masyarakat, jadi dimudahkan, pelayanan desa cepat dan tingkat kepercayaan masyarakat meningkat,” urai Juni.

Butuh Dukungan Pemerintah

Meski demikian tinggi tanggapan terhadap aplikasi yang ia gawangi, Juni berharap pemerintah pusat harus terus memberi hati, agar aplikasi itu.

Pemerintah Pusat, menurut Juni seharusnya mengikuti jejak Kabupaten Kendal. Di daerah itu, sebagian besar desa sudah menggunakan Protades. Ini berkat dukungan Pemerintah Kabupaten yang telah mengeluarkan edaran agar aplikasi tersebut digunakan oleh pemerintah desa.

“Kalau di kendal sudah ada dukungan, surat edaran tahun kemarin 2020, dan agustus 2021 ini targetnya sudah seluruh desa menggunakan, tinggal 76 desa lagi,” tulisnya.

Dikatakan, dukungan pemerintah pusat memang sangat dibutuhkan. Aplikasi Protades tentu masih dapat disempurnakan jika saja Juni diberi dukungan untuk membentuk tim mengembangkan aplikasi itu.

“Harapan saya bisa membawakan nama Kendal di kancah nasional, dan pemerintah nasional bisa merespon,
jika ada dana dukungan untuk mengembangkan aplikasi ini, kedepan saya ingin punya tim, untuk menyempurnakan aplikasi ini,” harapnya.

“Dan saya juga sedang mengembangkan aplikasi Bumdes, karena saya lihat di online sudah ada SID (Sistem Informasi Desa), sementara Bumdes belum ada, bisa dilihat di Jurnal Bumdes.ID, dan
itu untuk mengembangkan transparansi dan mengembangkan ekonomi kreatif,” tukasnya.

Ketua Komite Ekonomi Kreatif (KOEKRAF) Kabupaten Kendal, Joko Tusyawan mengapresiasi tinggi aplikasi Protades hasil karya Juni Prayitno.

“Sangat luar biasa dengan apa yang sudah dibuat Juni Prayitno, karena dalam kondisi sekarang, dia menjadi generasi muda yang mengembangkan aplikasi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat,” ungkap Joko.

Bagi kami kengapa sangat mengapresiasi karya ini, karena menyongsong pengembangan ekonomi kreatif, tentu saja dengan yakni jargon industri 4.0 dengan pengembangan

Digital, aplikasi dan game, dan ini sangat terkait dengan apa yang disebut targetnya pak Jokowi, sub sektor, pengembangan aplikasi digital.

Menurutnya, Protades telah menjadi babak baru untuk menyelesaikan beragam konflik tanah di masyarakat.

‘”Juni berhasil mengembangkan potensi, berdasarkan kondisi faktual, konflik tanah yang disebabkan tidak misalnya yang lengkap, jadi sering memicu konflik bahkan turun temurun, bahkan bisa jadi konflik berdarah pada kenyataannya,” katanya.

Joko menilai, secara visioner Protades dapat dikembangkan menjadi program nasional untuk mendorong data tanah masyarakat yang terintegrasi hingga ke daerah.

Tidak ada lagi nanti pernyataan ini kepemilikannya siapa, kalau terintegrasi secara nasional jadi tahu persis aset negara seperti apa dan dimana saja, yang selama ini, yang terjadi-orang yang punya akses dan punya kapital yang bisa mwnguasai dan mengakuisisi itu, ya lobi -lobi politiknya,” imbuh Joko.

“Dan Ini juga bisa jadi potensi pemasukan besar bagi bangsa,” timpalnya.

Soal dukungan terhadap Juni, Joko menyebut Koekraf Kendal telah memberi andil yang besar. Misalnya dukungan pembuatan video pendek tentang fungsi dan kegunaan aplikasi Protades yang dipersentasekan dihadapan dewan juri KIPP.

“Sudah dipersentasekan, dan mudah-mudahan dua minggu lagi mungkin akan masuk di Top 40 KIPP dan semoga masuk di 3 besar nasional,” ujarnya.

Selain dukungan teknis, dorongan agar aplikasi Protades masuk dalam regulasi tingkat provinsi juga telah dilakukan. kini tengah yang mendorong agar Protades menjadi pilot project sektor pertanahan di Provinsi Jawa Tengah.

“Karena aplikasi ini kan sangat penting untuk meningkatkan efisiensi dan transparansi. Jadi tidak bisa mendukung temuan ini, lewat regulasi juga akan kita upayakan, kita juga akan menggandeng anggota dewan untuk mengawal temuan-temuan seperti ini, dengan aplikasi ini akurasi data pertanahan akan lebih terjamin,” kata Joko. ( fin )

Sumber : Aplikasi Protades, Kini Sudah Memanfaatkan Ratusan Desa di Indonesia. – radarcirebon.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.